Senin, 15 Februari 2010

belajar desain





Siapa Bilang Desainer Grafis Gak Bisa Kaya

Selasa, 1 Desember, 2009 in Logo, Portfolio | Tags: desain, kontes, Logo | 3 komentar

Assalamu’alaikum!
Woho baru sekali ini buka tulisan di blog pake salam. Hehe it’s good. Hmmm sudah sekian bulan blogku yang satu ini terlantar tanpa daya, terkapar dan terluka. Hikz. Seakan terlupakan, namun bukan demikian adanya. Blog tetap menjadi bagian yang penting dalam hidupku. Ok guys, sehubungan dengan keadaan itu pula maka aku ingin sharing sedikit mengapa sampe aku begitu tega meminggirkan blogku ini. Yang jelas banyak kerjaan yang menyita waktu dan kadang sok menyita waktu :) baik itu kerjaan dunia maya maupun yang nyata. Dan ternyata kesibukan di dunia maya malahan lebih dominan karena eh karena lebih menjanjikan mata menjadi hijau lihat bayangan $ (baca: DOLLAR) dimana-mana.

Aku awali dengan sedikit prolog tentang dollar tersebut. Sori, ini bukan bisnis online semacam PPC, PPC ato review. Tapi memang betul betul kerja nyata yang membutuhkan ide dan inspirasi bukan hanya modal klik sambil merem. Tentu karena blogku ini lebih spesifik dalam dunia desain, maka pekerjaan yang aku maksud juga tak jauh-jauh dari sana. Beberapa tahun terakhir ini banyak sekali bermunculan situs interaktif semacam kontes ato turnamen online dimana disana ada pertemuan antara buyer dan designer ato istilah kerennya crowdsourcing (kalo gak salah) dimana buyer adalah pembeli ato klien ato orang yang butuh sesuatu yang berhubungan dengan desain dan sedulur2nya, sementara desainer disana tugasnya mencurahkan ide dari apa yang dibutuhkan klien. Tentu itu tak semudah yang dikira, karena kita harus berkompetisi dengan para desainer dari seluruh dunia, dari kutub utara sampe kutub selatan bahkan kutubuku juga ikut2an :P . Kontes apakah yang ada disana?? Wowh banyak sekali, mulai dari desain logo, banner, stationery, web design dll dan yang pasti bila kita menang akan dibayar dengan dollar, sekali lagi dollar bro… Nilainya? mulai dari $100 sampe $5000. Wow keren kan?
Read the rest of this entry »
Tipografi

Selasa, 28 Juli, 2009 in Tipografi | Tags: font, huruf, Tipografi, typography | 4 komentar

typographyTipografi merupakan suatu ilmu dalam memilih dan menata huruf dengan pengaturan penyebarannya pada ruang-ruang yang tersedia, untuk menciptakan kesan tertentu, sehingga dapat menolong pembaca untuk mendapatkan kenyamanan membaca semaksimal mungkin.

Sejarah Tipografi

Sejarah perkembangan tipografi dimulai dari penggunaan pictograph. Bentuk bahasa ini antara lain dipergunakan oleh bangsa Viking Norwegia dan Indian Sioux. Di Mesir berkembang jenis huruf Hieratia, yang terkenal dengan nama Hieroglif pada sekitar abad 1300 SM. Bentuk tipografi ini merupakan akar dari bentuk Demotia, yang mulai ditulis dengan menggunakan pena khusus.

Bentuk tipografi tersebut akhirnya berkembang sampai di Kreta, lalu menjalar ke Yunani dan akhirnya menyebar keseluruh Eropa.

Puncak perkembangan tipografi, terjadi kurang lebih pada abad 8 SM di Roma saat orang Romawi mulai membentuk kekuasaannya. Karena bangsa Romawi tidak memiliki sistem tulisan sendiri, mereka mempelajari sistem tulisan Etruska yang merupakan penduduk asli Italia serta menyempurnakannya sehingga terbentuk huruf-huruf Romawi.

Saat ini tipografi mengalami perkembangan dari fase penciptaan dengan tangan hingga mengalami komputerisasi. Fase komputerisasi membuat penggunaan tipografi menjadi lebih mudah dan dalam waktu yang lebih cepat dengan jenis pilihan huruf yang ratusan jumlahnya. Read the rest of this entry »
Perjuangan Panjang

Kamis, 23 Juli, 2009 in Logo | 4 komentar

deblasioLogo deBlasio adalah kemenangan paling baru dan paling ‘njlimet’. Emas ke 13 yang aku dapatkan. Setelah melalui 10 hari masa kompetisi harus melalui 2 minggu masa penjurian. Itupun bukannya mulus dengan bertengger di ranking 1 terus. Hari ini di atas besok turun ke ranking 4, besok naik habis itu turun lagi. Bener-bener bikin jantung deg2an gak karuan. Hehehe…

Menunggu dengan sabar, hanya itu yang bisa dilakukan dan tak lupa berdoa agar hasil akhir bisa memuaskan. Tak sia-sia, setelah menunggu waktu yang cukup lama, alhamdulillah sampur kemenangan di serahkan dipundakku. Senangnya hatiku dan pastinya $500 mengalir mulus ke rekening paypalku. Berharap esok akan meraih emas-emas lain yang lebih banyak. Amin.
Vexel Artworks

Rabu, 15 Juli, 2009 in Artwork, Vexel | Tags: Vexel | 7 komentar

Sudah pernah mendengar tentang VEXEL? “Vexel art is a digital art that is an entirely pixel-based form of raster art that imitates the vector graphics technique, but is distinguished from normal vector graphics or raster images.” Vexel sendiri adalah gabungan dari dua kata “Vector & Pixel”. Sekilas akan terlihat gambar vektor padahal sebenarnya itu adalah pixel image. Karya vexel dikerjakan dengan software pengolah image seperti Photoshop dll.

Berikut ini beberapa contoh VEXEL yang hasilnya saya pikir sangat mengagumkan. Maaf sekali belum bisa ngasih tutorial, karena saat ini juga sedang belajar bikin vexel. :)

37 Read the rest of this entry »
Prinsip Desain Grafis

Kamis, 12 Februari, 2009 in Teori Desain | Tags: prinsip desain | 16 komentar

Prinsip-prinsip desain membantu menentukan bagaimana menggunakan elemen desain. Ada empat prinsip desain: keseimbangan, penekanan, irama, dan kesatuan. Prinsip-prinsip desain membantu anda untuk menggabungkan berbagai elemen desain ke dalam tata letak yang baik.

Keseimbangan
Setiap elemen pada susunan visual berat yang telah ditentukan oleh ukurannya, kegelapan atau keringanan, dan ketebalan dari baris. Ada dua pendekatan dasar untuk menyeimbangkan. Yang pertama adalah keseimbangan simetris yang merupakan susunan dari elemen agar merata ke kiri dan ke kanan dari pusat. Yang kedua adalah keseimbangan asimetris yang merupakan pengaturan yang berbeda dengan berat benda yang sama di setiap sisi halaman. Warna, nilai, ukuran, bentuk, dan tekstur dapat digunakan sebagai unsur balancing.

Simetris bisa menjadi kekuatan dan stabilitas publikasi, presentasi, dan situs web. Asimetris dapat menyiratkan kontras, berbagai gerakan, mengejutkan dll. Hal ini cocok untuk modern dan publikasi hiburan, presentasi, dan situs web.

Untuk menciptakan keseimbangan:

1. Ulangi bentuk tertentu secara berkala, baik secara vertikal maupun horizontal.
2. Pusat elemen pada halaman.
3. Menempatkan beberapa visuals kecil di satu daerah untuk menyeimbangkan satu blok besar gambar atau teks.
4. Gunakan satu atau dua bentuk aneh dan membuat bentuk biasa.
5. Keringanan teks potong-berat dengan terang, berwarna-warni visual.
6. Meninggalkan banyak spasi besar sekitar blok teks atau foto gelap.
7. Offset besar, gelap foto atau ilustrasi dengan beberapa lembar teks kecil, masing-masing dikelilingi oleh banyak spasi.

Read the rest of this entry »
Elemen Desain Grafis

Rabu, 11 Februari, 2009 in Teori Desain | Tags: elemen, Grafis | 11 komentar

Ketika membuat layout baru, Anda harus mulai dengan dasar elemen desain: line, bentuk, tekstur, ruang, ukuran, nilai, dan warna. Elemen dasar ini dapat menghasilkan berbagai layout tergantung bagaimana mereka sedang digunakan.

Garis

Garis adalah tanda untuk menghubungkan dua titik. Berbagai jenis garis muncul di mana-mana. Lihatlah di sekitar Anda dan Anda akan melihat baris yang lurus, lengkung, berbelok-belok, tipis, tebal, dan titik-titik.

Garis dapat digunakan untuk:

1. Mengatur informasi.
2. Penekanan kata.
3. Menghubungkan informasi.
4. Outline foto .
5. Membuat kotak.
6. Membuat bagan atau grafik.
7. Membuat pola atau ritme dengan membuat banyak baris.
8. Membuat penekanan langsung ke mata pembaca. (Membuat garis diagonal.)
9. Mensugesti emosi.

Read the rest of this entry »
Desain Grafis

Selasa, 10 Februari, 2009 in Teori Desain | 1 comment

Desain grafis adalah proses untuk menciptakan tampilan sebuah publikasi, presentasi, atau di situs web yang menarik, dengan cara logis. Ketika desain selesai maka: menarik perhatian, menambah nilai, dan meningkatkan minat audiens, simpel, terorganisir, memberikan penekanan selektif, dan menciptakan kesatuan yang utuh.

Langkah-langkah dalam Proses Desain Grafis:

1. Menganalisis audiens.
2. Menentukan tujuan anda pesan.
3. Memutuskan dimana dan bagaimana Anda akan muncul (apakah ia akan menjadi publikasi cetak, presentasi, atau situs web).
4. Menetapkan tujuan.
5. Mengatur teks dan gambar.
6. Pilih format yang sesuai dan tata letak.
7. Pilih sesuai typefaces, jenis ukuran, jenis gaya, dan spasi.
8. Menambah dan memanipulasi grafik.
9. Mengatur teks dan gambar.
10. Proses proofing
11. Memperbaiki dan menyempurnakan.

Read the rest of this entry »
Mencoba Adobe Illustrator

Selasa, 6 Januari, 2009 in Artwork, Belajar Vektor | Tags: Illustrator, vector | 12 komentar

Sebelumnya saya minta maaf karena lama sekali tidak meng-update blog yang satu ini. Ya karena banyak hal yang membuat saya jarang kemari. :D

Selalu berkutat dengan CorelDraw ternyata ada jenuhnya juga. Akhirnya berbekal pengetahuan yang minim terhadap Adobe Illustrator, mencoba juga akhirnya menjamah software vektor yang satu ini. Sudah lama sebenernya tahu dengan software yang satu ini, cuman karena sakin cintanya sama Corel malah jarang sekali menyentuh, padahal dari segi fleksibilitas dan feature, menurut saya Ai lebih unggul dibanding CorelDraw.

Berbekal pengetahuan yang minim, akhirnya saya beranikan mencoret-coret kanvas Ai sekenanya. Nah jadilah. Ini salah dua vektor yang saya buat menggunakan Ai. Sebenarnya gambar2 ini sudah beberapa lama terposting di GALLERY saya. Mau ngusung kesini belum ada waktu. :D

Saat ini saya belum sempat sharing tutorialnya. Kapan-kapan deh ya.

Tips Memilih Warna

Sabtu, 26 April, 2008 in Belajar Image, Teori Desain | Tags: desain, Image, Teori, warna | 8 komentar

Warna adalah salah satu elemen yang cukup penting dalam desain grafis. Dalam ilmu seni rupa, warna bisa mewakili emosi dari karya tersebut sehingga pesan dari karya tersebut bisa lebih mudah diterima oleh audience. Elemen warna dalam desain grafis juga memiliki fungsi tersebut. Contoh yang paling mudah adalah dengan menganalogikan warna terhadap hal-hal disekeliling kita. Misalnya; Awan=luas=biru muda, Matahari=cerah=kuning muda, Kayu=kuno, klasik=coklat, Api=menyala, semangat=merah.

Ketika merancang sebuah karya, kita sering kesulitan menentukan warna yang cocok dengan tema atau kesan yang diinginkan. Berikut saya sampaikan tips memilih warna, semoga bisa membantu.

1. Siapkan tema dan kesan yang diinginkan untuk desain tersebut. Apakah berkesan klasik, modern, natural, atau yang lain tergantung kebutuhan anda.
2. Cari ilustrasi atau foto yang sesuai dengan tema anda. Bisa hasil jepretan foto anda sendiri, atau free image seperti Stock Exchange misalnya.

Read the rest of this entry »
Tutorial vektor [01]

Senin, 31 Maret, 2008 in Belajar Vektor | Tags: CorelDraw, Desain Grafis, Vektor | 27 komentar

Nih aku mau sedikit sharing aja tentang proses pembuatan foto yang aku rubah jadi vektor. Sebenarnya mudah saja kok, cuman butuh kejelian dan ketelitian untuk mendapatkan hasil yang terbaik dan mirip dengan foto aslinya. Mungkin vektor ini gak terlalu sempurna, tapi cukuplah buat referensi. Hehehe. Software graphic yang aku gunain adalah CorelDraw X3, karena memang aku sudah familiar dengan itu, tapi bisa juga digunakan sofware pengolah grafis yang lain seperti Freehand dan Illustrator.

Beberapa tahapan yang bisa kita lakukan untuk membuat gambar vektor yang kita inginkan [versiku] adalah sebagai berikut :

Cupid 011. Siapkan image yang ingin kita vektorkan. Bisa dari kamera digital, foto handphone atau objek yang lain. Usahakan gambar dalam keadaan yang bagus, jelas terlihat detailnya agar kita mudah proses tracingnya. Kebetulan foto yang mau aku buat vektor ini hanya dari hape so mungkin kurang begitu tajam. atapi cukuplah buat dilihat detailnya.

Cupid 032. Buat line universal terlebih dahulu seperti bentuk wajah, garis luar rambut, mata, hidung dan bibir. Gunakan warna garis yang kontras serta ketebalan yang sesuai agar bisa dilihat detail hasilnya. Untuk membuat garisnya bisa digunakan Freehand Tool (F5) di Toolbox atau Bezier tool lalu proses penyempurnaan ritme garis bisa digunakan Shape Tool.

cupid 043. Cobalah memberi warna pada garis-garis telah dibuat tadi untuk bisa melihat penampakan kasar. Pada bagian ini kita bisa menentukan standar warna atau warna dasar yang akan kita pakai nantinya, seperti warna kulit dan rambut. Disamping itu juga bisa menentukan proporsi proporsi muka jika belum sesuai. Gambar sudah bisa dilihat apakah sudah ada kemiripan dengan foto aslinya. Detail mata dan dan hidung serta bibir dan juga garis wajah merupakan elemen penting pembentuk wajah, so disini butuh kejelian.

pengertian belajar dan mengajar


Pengertian belajar dan pembelajaran


a. Belajar

Menurut Slavin dalam Catharina Tri Anni (2004), belajar merupakan proses perolehan kemampuan yang berasal dari pengalaman. Menurut Gagne dalam Catharina Tri Anni (2004), belajar merupakan sebuah sistem yang didalamnya terdapat berbagai unsur yang saling terkait sehingga menghasilkan perubahan perilaku.

Sedangkan menurut Bell-Gredler dalam Udin S. Winataputra (2008) pengertian belajar adalah proses yang dilakukan oleh manusia untuk mendapatkan aneka ragam competencies, skills, and attitude. Kemampuan (competencies), keterampilan (skills), dan sikap (attitude) tersebut diperoleh secara bertahap dan berkelanjutan mulai dari masa bayi sampai masa tua melalui rangkaian proses belajar sepanjang hayat.

Ciri-ciri belajar adalah : (1) Belajar harus memungkinkan terjadinya perubahan perilaku pada diri individu. Perubahan tersebut tidak hanya pada aspek pengethauan atau kognitif saja tetapi juga meliputi aspek sikap dan nilai (afektif) serta keterampilan (psikomotor); (2) perubahan itu merupakan buah dari pengalaman. Perubahan perilaku yang terjadi pada individu karena adanya interaksi antara dirinya dengan lingkungan . interaksi ini dapat berupa interaksi fisik dan psikis; (3) perubahan perilaku akibat belajar akan bersifat cukup permanen.

b. Pembelajaran

Menurut Gagne, Briggs, dan wagner dalam Udin S. Winataputra (2008) pengertian pembelajaran adalah serangkaian kegiatan yang dirancang untuk memungkinkan terjadinya proses belajar pada siswa.

Menurut UU Nomor 20 tahun 2003 tentang Sisdiknas, pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkingan belajar.

Ciri utama dari pembelajaran adalah inisiasi, fasilitasi, dan peningkatan proses belajar siswa. Sedangkan komponen-komponen dalam pembelajaran adalah tujuan, materi, kegiatan, dan evaluasi pembelajaran.

Sabtu, 23 Januari 2010

strategi peningkatan mutu pendidikan

Upaya peningkatan mutu pendidikan menjadi agenda penting pemerintah (depdiknas) beberapa tahun terakhir menyusul hasil penilaian internasional, seperti PISA 2003 (Programme for International Student Assessment) dan TIMSS 2003 (Trends in International Mathematics and Sciences Study), yang menempatkan Indonesia pada posisi buntut dalam hal mutu pendidikan.

Lebih dari itu, laporan terkini dari UNDP tentang Indeks Pembangunan Manusia tahun 2006 juga masih menempatkan Indonesia pada ranking ke-108 dari 177 negara, jauh di bawah negara-negara tetangga, seperti Singapura (25), Brunei Darussalam (34), dan Malaysia (61).

Berbagai terobosan dan kebijakan penting telah diambil oleh depdiknas dalam rangka meningkatkan akses pendidikan yang merata dan bermutu sejalan dengan komitmen yang digariskan oleh UNESCO melalui program Education for All (EFA). Ujian Nasional (UN) yang belum lama ini kembali digelar oleh depdiknas dan kebijakan perubahan kurikulum –dari kurikulum 1994 ke KBK, dari KBK ke KTSP– adalah bagian penting dari terobosan penting itu. Sejauhmana kebijakan-kebijakan tersebut mampu meningkatkan mutu pendidikan?

Alih-alih menjadi strategi peningkatan mutu pendidikan, kebijakan UN sesungguhnya telah mengaburkan hakikat pendidikan bermutu. Parameter kebermutuan pendidikan tidak lagi didasarkan pada kebermaknaan individu dalam berperan di dalam kehidupan masyarakat, melainkan melulu didasarkan pada sejauhmana peserta didik mampu mensiasati sederetan soal dalam UN.

Lebih dari itu, kebijakan UN tidak lagi berpihak pada kepentingan siswa, tetapi lebih banyak mendukung kepentingan kekuasaan. Hasil UN setidaknya bisa menjadi alat legitimasi pemerintah untuk mengklaim peningkatan mutu pendidikan yang pada gilirannya bisa menjadi nilai tawar tersendiri bagi pemerintah di mata dunia internasional. Di sinilah, makna kualitas pendidikan telah dimonopoli sedemikian rupa oleh kepentingan pemerintah dan bahkan kepentingan global.

Salah Resep

Penerapan UN sebagai salah satu resep peningkatan mutu pendidikan mencerminkan sebuah kebijakan yang tidak didasarkan pada akar persoalan pendidikan yang sebenarnya. Problem utama merosotnya mutu pendidikan sebenarnya tidak disebabkan oleh lemahnya sistem evaluasi dan kurikulum, melainkan terletak pada rendahnya kualitas guru secara umum dan tidak meratanya persebaran guru-guru profesional.

Menurut laporan Balitbang Depdiknas, misalnya, hanya sekitar 30 persen dari keseluruhan guru tingkat SD di Indonesia yang mempunyai kualifikasi untuk mengajar. Hal yang sama juga terjadi di satuan pendidikan menengah, terutama di lingkungan madrasah. Data Departemen Agama (2006) menyebutkan bahwa sekitar 60 persen guru madrasah tidak mempunyai kualifikasi mengajar. Inilah sebenarnya akar persoalan pendidikan kita.

Namun, seperti yang kita lihat, selama ini kebijakan pemerintah dalam upaya perbaikan mutu pendidikan belum sepenuhnya didasarkan pada akar persoalan di atas. Malah, pemerintah cenderung sibuk dengan kebijakan ‘salah resep’, seperti penerapan UN dan perubahan kurikulum yang sebenarnya belum terlalu mendesak untuk dilakukan.

Terkait dengan kebijakan perubahan kurikulum, penting dicatat bahwa inovasi kurikulum tanpa didukung oleh ketersediaan guru yang mumpuni –yang notabene sebagai agen pelaksana kurikulum di kelas– malah hanya akan semakin membuat runyam mutu pendidikan.

Padahal kalau kita mau belajar dari keberhasilan model pendidikan Finlandia –yang berdasarkan laporan PISA 2000 dan 2003 menempatkan negara welfare state itu pada ranking pertama dalam hal ketercapaian kompetensi aplikatif siswa berumur 15 tahun dalam bidang literasi dan numerasi, justru faktor inovasi kurikulum, sebagaimana dikatakan Simola (2005), tidak berperan signifikan dalam menunjang keberhasilan pendidikan di Finlandia. Ketersediaan guru yang kompeten lah sebenarnya yang merupakan kunci sukses pendidikan di negara tersebut.

Kebijakan strategis

Lalu, apa yang bisa kita lakukan dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan nasional? Setidaknya ada empat kebijakan strategis yang bisa dilakukan.

Pertama, perlunya dilakukan semacam ‘ujian nasional’ bagi semua guru dari tingkat SD sampai SMA. ‘UN’ guru ini digunakan sebagai langkah pemetaan terhadap kompetensi guru secara nasional. Program ini juga penting sebagai upaya melihat sejauhmana persebaran guru-guru yang benar-benar kompeten di bidangnya.

Kebijakan pemerintah tentang sertifikasi guru sebagai implementasi UU 14/2005 tentang Guru dan Dosen sesungguhnya bisa diarahkan pada tujuan di atas. Namun sayangnya, kebijakan tersebut terkesan terlalu akomodatif terhadap tarik ulur kepentingan politis. Semestinya kebijakan tersebut harus benar-benar diarahkan pada upaya menjaring bibit-bibit guru profesional, bukan sekedar untuk ‘balas budi’ terhadap lamanya pengabdian para ‘guru senior’.

Kedua, perlunya kebijakan persebaran guru-guru berkualitas. Selama ini guru-guru berkualitas banyak tersebar di sekolah-sekolah favorit (effective schools) di perkotaan. Hal ini wajar karena mereka melihat jaminan –baik dari sisi ekonomi maupun karier– yang lebih menjanjikan di sekolah-sekolah itu. Hal inilah sebenarnya yang melahirkan kesenjangan kualitas pendidikan antara urban schools dengan rural schools.

Karena itu, sudah saatnya pemerintah membuat kebijakan yang menguntungkan sekolah-sekolah di daerah terpencil berupa kebijakan persebaran guru-guru berkualitas. Hal ini bisa dilakukan dengan cara memberikan daya tarik yang lebih kepada mereka yang mengajar di sekolah-sekolah pinggiran tersebut, misalnya, dengan ditambahkannya insentif perumahan dan fasilitas pendukung lainnya. Pola pembinaan karir terutama guru-guru PNS bisa diarahkan pada kebijakan ini.

Dalam hal ini, ada baiknya kita mengadopsi sistem pembinaan karier model militer, di mana kader-kader terbaik harus ditempa terlebih dahulu di daerah-daerah yang penuh tantangan yang tidak mudah (contexts of stringency).

Ketiga, sebagai jangka panjang, perlu dilakukan strategi untuk mencari bibit unggul dalam profesi keguruan. Hal ini bisa dilakukan dengan cara meningkatkan pengakuan dan penghasilan yang lebih kompetitif bagi profesi guru, sehingga hal ini bisa memikat para lulusan terbaik dari SMA untuk melanjutkan ke program keguruan. Keberhasilan pendidikan Finlandia, sebagaimana disebutkan di atas, tidak bisa dilepaskan dari faktor ini. Simola (2005) mensinyalir bahwa program keguruan di Finlandia termasuk jurusan paling diminati oleh para lulusan terbaik SMA, sehingga wajar jika kebanyakan guru Finlandia merupakan bibit unggul yang berkualitas.

Keempat, pemerintah juga perlu melakukan restrukturisasi menyeluruh terhadap lembaga-lembaga keguruan di tanah air, terutama dari segi rekruitmen mahasiswanya, sehingga jaminan kualitasnya semakin unggul dan bisa dipertanggungjawabkan.

Kebijakan-kebijakan strategis di atas seharusnya menjadi pijakan pemerintah dalam usaha meningkatkan mutu pendidikan nasional. Meskipun strategi-strategi itu hasilnya tidak bisa langsung kelihatan, tapi itu akan lebih efektif daripada strategi penerapan kebijakan UN yang terkesan hanya mengambil jalan pintas peningkatan mutu pendidikan yang hasilnya pun masih diragukan banyak pihak.

Minggu, 17 Januari 2010

Perkembangan Nasionalisme Bangsa Minahasa Mulai Jaman Kolonial Sampai Sekarang



PostSubyek: Perkembangan Nasionalisme , Bangsa Minahasa Mulai Jaman Kolonial Sampai Sekarang Tue Oct 28, 2008 8:36 am

Perkembangan Nasionalisme
Bangsa Minahasa Mulai Jaman Kolonial Sampai Sekarang


Bert Supit
Ternyata banyak yang tidak tahu, bert supit (senior) kini sudah berusia lebih dari 80 tahun berbeda dengan dr.Bert Adriaan Supit. Keduanya adalah penulis, pegiat budaya, dan sudah melewati 5 jaman (Belanda, Jepang, Orla, Orba, Reformasi)


Kontribusi pikiran suatu sistem federal bagi
Negara Republik Indonesia dari kacamata Minahasa


Tulisan ini merupakan analisa dari Buku desertasi PhD David E.F. Henley: 'Nationalism and Regionalism' ; Artikel Gerry van Klinken : 'Christianity and Ethnicity in Indonesia', Ratulangi's Intelectuality ; Dan dua buku mutakhir : 'Guns Germs & Steel' oleh Jarod Diamond dan 'The World is Flat' oleh Thomas L Friedman.
Sejarah karakter egaliter dan demokratis serta patriotisme dan nasionalisme bangsa Minahasa sesuai dengan catatan-catatan yang ada, sudah ber-langsung beberapa abad lama-nya jauh sebelum kekuasaan kolonial memasuki kepulauan Nusantara. Dari struktur sosial dan pemerintahan Minahasa, Wanua-Wanua (Desa) di Mina-hasa mempunyai karakter struk-tur pemerintahan ibarat 'Repu-blik Wanua' yang sangat man-diri (merdeka). Selanjutnya, ada dua catatan sejarah abad ke 17 tentang Patriotisme Minahasa sebagai satu bangsa dalam seja-rah peperangan yang dilakukan oleh bangsa Minahasa dengan bangsa Spanyol di tahun 1667 dengan kemenangan Minahasa, dan pertempuran antara bangsa Minahasa dan bangsa Bolaang Mongondow yang terkenal di-dekat Tompaso dengan hasil kemenangan bangsa Minahasa pada tahun 1679.
Perang bangsa Minahasa melawan Spanyol di tahun 1667 yang berakhir dengan kekalahan Spanyol tersebut adalah juga berkat deplomasi bangsa Mina-hasa dengan bangsa Belanda yang pada waktu itu berada di Maluku. Dari hasil kekalahan Spanyol terhadap Minahasa maka pada tanggal 10 Januari 1679 diadakanlah suatu perjan-jian antara dua bangsa yakni bangsa Minahasa dan bangsa Belanda (VOC). Dari perjanjian tersebut, bangsa Minahasa se-benarnya tidak pernah me-ngakui bahwa Minahasa pernah dijajah oleh bangsa Belanda. Kedua bangsa adalah sejajar dan sama derajat. Oleh sebab itu perlakuan Belanda terhadap Minahasa kurang lebih bero-rientasi kepada perjanjian tahun 1679 di mana a.l. aspek pendi-dikan rakyat sangat menonjol. Patriotisme bangsa Minahasa dijaman kolonial diperoleh juga dari catatan-catatan sejarah yakni Perang Tondano (Mina-hasa) dengan Belanda di tahun 1801.

I. Ada beberapa ungkapan pemikiran tokoh-tokoh Mina-hasa jaman kolonial tentang cita-cita Minahasa dalam bentuk Nasionalisme Bangsa Minahasa di jaman kolonial, a.l. adalah:

1. J.U. Mangowal pada tanggal 15 Desember 1915 yang diter-bitkan oleh Nafiri Minahasa pada tahun 1916 dalam kesem-patan peresmian Cabang Mana-do dari organisasi PERSERIKATAN MINAHASA yang berdiri di tahun 1909 oleh orang-orang Minahasa di Jawa mengatakan,
"Minahasa, bangsaku! Jangan-lah engkau kecewa oleh karena keletihan, kemalangan, maupun penindasan. Lihatlah apa yang berlangsung di Eropa di mana tiap orang mencintai bangsanya sehingga bila ia mati di medan pertempuran ia seakan-akan ingin mengatkaan: Ambilah tubuh saya yang fana ini, saya berjuang sampai mati untuk tanahku dan bangsaku.(bersambung)
Kemajuan Minahasa yang sedang kita alami sekarang akan merupakan suatu kenangan yang indah untuk turun - temurun orang Minahasa dan akan merupakan suatu kebesaran yang abadi untuk tanah Minahasa dan bangsa Minahasa."

2. Mengomentari tentang berdirinya PERSERIKATAN MINAHASA di tahun 1909, DR. G.S.S.J. Ratulangi dan F. Laoh di tahun 1917 memberikan komentar tentang Idealisme Nasionalisme Minahasa sbb:
"Semua yang menyangkut perasaan dan berpikir tentang idealisme Nasional Minahasa sudah terkonsentrasi dalam organisasi Perserikatan Minahasa yang didirikan pada tahun 1909".

3. Dr. Sam Ratulangi, dalam Harian Pikiran (Manado) 31 Mei 1930 menyatakan berdirinya Organisasi Politik 'Persatuan Minahasa' di tahun 1927 sbb:
"Maksud utama dari PERSATUAN MINAHASA adalah menjaga keselamatan dan kesejahteraan Bangsa Minahasa. Tidak ada gunanya bagi kita untuk mengingkarinya karena maksud dan tujuannya adalah baik.
Kita tak dapat katakan bahwa sikap tersebut adalah "Egois" karena sikap tersebut adalah bagian mutlak dari Jatidiri Manusia. Semua orang mempunyai hak dan kewajiban untuk mengurus diri sendiri tanpa membahayakan kepentingan masyarakat umum dalam proses tersebut.
Sejalan dengan itu, tiap bangsa mempunyai hak dan kewajiban untuk mengurus diri sendiri tanpa membahayakan kepentingan bangsa lain.
Untuk ini, Persatuan Minahasa harus berikan perhatian utamanya kepada situasi lokal yakni TANAH MINAHASA dan BANGSA MINAHASA. Karena biarpun Bangsa Minahasa sekarang ini telah tersebar di seluruh Nusantara (Indonesia), kita selalu tetap terikat dengan tanah lahir kita dalam ikatan spiritual".

II. GERAKAN PEMIKIRAN NASIONALISME ETNIS MINAHASA.

1. Nasionalisme Regional (Etnis) yang berkembang pada permulaan abad ke 20 sering di gambarkan sebagai salah satu komponen dari bertumbuhnya Gerakan Nasionalisme Indonesia. Tetapi perkembangan nasionalisme Minahasa, adalah juga sebagai ungkapan 'sentimen premordial etnis'. Premordialisme etnis yang dijaman sekarang ditanggapi secara negatif oleh orang-orang 'ultra nasionalis' atau 'pan-nasionalis', sebenarnya adalah sesuatu sifat manusia atau kelompok (etnis) manusia yang sangat alamiah dan oleh sebab itu logis. Karena kenyataan etnis Minahasa sangat terkait dengan ciptaan Tuhan terhadap manusia dan kelompok manusia yang mempunyai sifat-sifat yan sama dengan hak azasi manusia dan hak azasi etnis (*).
Namun demikian, di Minahasa Nasionalisme Lokal yang disebut Nasionalisme Etnis Minahasa yang bersumber secara eksklusif etnis Minahasa adalah suatu perkembangan nasionalisme yang spesifik otonom yang disebabkan oleh berbagai faktor proses modernisasi barat, sama seperti modernisasi barat yang mendukung Nasionalisme Indonesia. Hanya saja perkembangan nasionalisme Minahasa telah berlangsung dalam skala yang lebih kecil tetapi ternyata dimulaikan lebih awal dari proses Nasionalisme Indonesia.
Penelitian dan analisa tentang Nasionalisme Regional / Etnis Minahasa oleh David Henley berlangsung dalam suatu periode relatif pendek hingga tahun 1942 dengan memperhatikan faktor-faktor :
- Sifat karakter prakolonial Minahasa yang mengandung karakter pluralisme, demokratis egaliter, terbuka dan bersemangat tinggi (patriotis).
- Transformasi Minahasa oleh perdagangan koffie, kopra dan cengkih; perkembangan pesat agama Kristen dan Pendidikan modern di Minahasa yang luas.
- Lahirnya Dewan Perwakilan Rakyat Lokal (Minahasa Raad) yang pertama diseluruh Nusantara (1919).
- Kedudukan khusus orang Minahasa jaman kolonial dibandingkan dengan orang-orang Indonesia lainnya.
- Pergumulan banyak orang Minahasa sampai tahun 1942 untuk berjuang berdirinya Negara Indonesia dengan bentuk Federal, bahkan Commonwealth (Persemakmuran) dimana tiap kelompok nasional etnis (bangsa) termasuk Bangsa Minahasa, tetap akan memperoleh status otonomi sempurna.

2. PERAN PEMIMPIN-PEMIMPIN KRISTEN DALAM GERAKAN NASIONALISME MINAHASA
Agama Kristen berkembang sangat cepat di Minahasa. Dalam jangka waktu relatif sangat pendek seluruh penduduk tanah Minahasa sudah menerima agama Kristen menjadi agamanya. Karena itu juga Dewan Pekabaran Injil di Belanda dalam salah satu laporannya mengatakan bahwa Pekabaran Injil di Minahasa adalah 'Mahkota Pekabaran Injil' dari Zending Nederland.
Berdasarkan kenyataan geografis, budaya maupun bahasa dan asal usul orang Minahasa maka sejak awal baik pimpinan Zending Protestan di Belanda maupun Guru - guru dan Pendeta - Pendeta pribumi Minahasa telah berpikir berdirinya Gereja Minahasa yang otonom terlepas dari ikatan organisasi Zending Belanda, Gereja Belanda maupun lepas dari Pemerintahan Kolonial Belanda.
Kesadaran tentang perasaan nasionalisme orang Kristen Minahasa sudah dimulaikan sejak 1875 - 1882 waktu Indische Kerk mengambil alih peran pekerjaan Zending di Minahasa.
W. Sumampow dan J. Walintukan adalah dua pelopor guru Zending di tahun 1892 yang menentang secara terang-terangan kontrol Indische Kerk terhadap sekolah - sekolah Zending. Mereka diberhentikan dari jabatan guru Zending karena mereka memaksakan untuk mengangkat Pendeta-Pendeta orang Minahasa.
Tulang punggung dari suatu gerakan untuk berdirinya Gereja Minahasa yang berdiri sendiri berada dalam jajaran guru-guru Zending yang bekerja di desa-desa Minahasa. Ditahun 1910 suatu asosiasi guru-guru Zending yang dinamakan Pangkal Setia dan dipimpin oleh A.M. Pangkey dan J.U. Mangowal didirikan.
Pangkal Setia bukanlah suatu organisasi guru yang berorientasi politik. Pangkal Setia menganut sikap yang diajarkan Zending yakni : Oposisi Loyal.
Oposisi loyal yang diajarkan Zending tersebut berorientasi kepada pendirian bahwa orang Kristen harus menyuarakan kenabiannya dalam hal kebenaran dan keadilan. Dan dalam kedua hal ini Zending sering tidak sejalan dengan Pemerintahan kolonial.
Harian Zending 'Tjahaja Siang' hampir saja dibreidel oleh Pemerintahan Kolonial oleh karena kritikannya dan pada tahun 1920 sewaktu seluruh staf redaksi dipegang oleh orang Minahasa maka Harian tersebut menjadi lebih kritis dan menjadi trompet politis orang Minahasa.
Pada tahun 1932 Pangkal Setia mengadakan koalisi dengan gerakan Nasionalisme yang sekuler yakni dengan organisasi Persatuan Minahasa.
Gerakan Nasionalisme yang berkembang diantara guru-guru Zending dan para Pendeta asal Minahasa mengalami kulminasi dengan berdirinya KGPM ditahun 1933 dan GMIM di tahun 1934.
Pemimpin-pemimpin (B.W Lapian dan A.Z.R Wenas) kedua gereja tersebut dengan bangga tetap mempergunakan istilah Bangsa Minahasa dan Tanah Air Minahasa sebagai orientasi pengungkapan pendirian Nasionalisme mereka yang identik dengan pemimpin - pemimpin (Ratulangi cs.) politik masyarakat Minahasa pada waktu itu. Bahwa sesuai dengan kenyataan, dua lembaga Gereja KGPM dan GMIM hingga sekarang adalah satu-satunya lembaga yang tetap ada dengan mempertahankan identitas ke-Minahasa-annya.

3. PERSATUAN MINAHASA, 1927
Gerakan Nasionalisme Federal Minahasa.
Apakah Nasionalisme Minahasa berada di luar Wawasan Nasional Indonesia? Jawabnya: Ya dan Tidak. Pada permulaan, aspirasi nasionalisme Minahasa sangat berorientasi kepada pemikiran Minahasa sebagai satu negara yang merdeka, namun dalam perkembangannya sebelum tahun 1942 tersebut kaum intelektual Minahasa mengambil sikap bahwa apapun masa depan politik mereka, tanah air dan bangsa Minahasa akan menjadi bagian dari suatu Indonesia yang lebih luas. Kebanyakan kaum intelegensia Minahasa menerima kenyataan yang ideal akan Indonesia Merdeka, sehingga Ratulangi, Maramis, Laoh, Palar, Mononutu dll turut berjuang untuk kemerdekaan Indonesia.
Tetapi gambaran Indonesia yang mereka pikirkan adalah suatu gambaran yang berlainan dengan apa yang dipikirkan dan diproklamasikan oleh Soekarno.


Terakhir diubah oleh Admin tanggal Wed Oct 29, 2008 12:21 am, total 2 kali diubah
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user http://paguyubanpulukadang.forumotion.net
Admin
Admin


Jumlah posting: 2171
Registration date: 31.08.08

PostSubyek: Re: Perkembangan Nasionalisme , Bangsa Minahasa Mulai Jaman Kolonial Sampai Sekarang Tue Oct 28, 2008 8:37 am

Tetapi gambaran Indonesia yang mereka pikirkan adalah suatu gambaran yang berlainan dengan apa yang dipikirkan dan diproklamasikan oleh Soekarno.
Bagi sebagian besar kaum intelektual Minahasa, Nasionalisme Persatuan Indonesia berdasarkan Satu Nusa, Satu Bangsa, Satu Bahasa dengan falsafah integralisme Jawa (Soekarno dan Soepomo) dan wawasan 'imperialisme' kerajaan Mojopahit, adalah sesuatu yang asing bagi sebagian besar orang Minahasa. Bagi kaum intelektual Minahasa yang dipelopori oleh Ratulangi cs, Negara Indonesia adalah suatu projek perjuangan politik yang tidak didukung oleh kenyataaan sejarah maupun budaya bangsa-bangsa yang mendiami kepulauan nusantara Indonesia. Negara Indonesia adalah kenyataan politik berdasarkan wawasan geografis jajahan Belanda. Oleh sebab itu apa yang disebut bangsa Indonesia bagi kaum intelektual Minahasa adalah sesuatu yang abstrak; sehingga bagi mereka Negara Indonesia yang merdeka harus merupakan suatu Federasi dari bermacam - macam bangsa yang mendiami kepulauan nusantara Indonesia, dimana tiap bangsa akan mempertahankan identitas/otonomi politik maupun budaya sendiri.
Dibawah ini saya kutip ungkapan Sam Ratulangi yang dimuat dalam harian 'Fikiran' Manado tgl. 31 Mei 1930 dan 'Nationale Comentaren' tgl. 26 Nopember 1938 kontrak politik bangsa Indonesia sbb:
"Persatuan nasional dari bangsa Indonesia adalah suatu persatuan politik. Kenyataan ini didasarkan kepada kemauan politis yang sukarela untuk membentuk suatu persatuan bangsa dan negara Indonesia yang berdaulat. Dengan mengakui dan menghormati akan perbedaan etnis dan budaya pluralitas bangsa Indonesia yang bersatu dengan segala konsekwensinya, kita semua harus menerima, menghormati dan berjuang untuk persatuan politis bangsa Indonesia tersebut. - Namun dilain pihak adalah suatu keharusan yang seimbang bahwa Persatuan Indonesia juga harus mengakui dan menghormati hak azasi dari setiap kelompok etnis untuk mempertahankan otonomi mereka dalam batas wilayah kelompok etnis tersebut".
Demikianlah interpretasi Ratulangi tentang Persatuan dan Nasionalisme Indonesia.
Pemikiran dan pendirian status Otonomi luas (sempurna) Minahasa dalam sistem Federal Indonesia mengandung suatu perasaan kepedulian yang kuat akan nasib tanah dan bangsa Minahasa yang berorientasi kepada kenyatan masyarakat Minahasa sebagai satu bangsa yang alamiah yakni :
- yang asal usulnya sama
- yang berdiam dalam suatu daerah yang batas-batas geografis jelas
- yang disatukan oleh satu idealisme sosial, politik, ekonomi, budaya dan agama yang sama.
Semua unsur- tersebut diatas menunjukkan bahwa Minahasa memenuhi syarat-syarat yang mutlak, untuk dapat menyebut dirinya sebagai suatu negara yang berdaulat.
Selanjtnya, dalam sebuah artikel berjudul 'Christianity and Ethnicity in Indonesia; The Intelectual Biography of Sam Ratulangi' yang dibawakan dalam satu simposium di Universitas Frankfurt pada bulan Desember 2003 oleh Gerry van Klinken dari KITVL di Leiden, Nederland; a.l. ia katakan bahwa pemikiran intelektual Nasionalisme Etnis Minahasa; Ratulangi memperolehnya dari penggalian budaya asli Minahasa yang ia hubungkan dengan falsafah semangat 'Bushido' Jepang oleh Nitobe dan semangat falsafah 'kebenaran pragmatis' Eropa (1907) oleh William James. Ratulangi menurut Gerry van Klinken sangat menekankan bahwa Nasionalisme Minahasa ada hubungan yang erat sekali dengan budaya asli Minahasa maupun agama Kristen yang datang ke Minahasa bersamaan dengan budaya modernisasi Eropa. Jadi, Kekristenan dan Budaya asli Minahasa sudah merupakan satu kesatuan yang membentuk Nasionalisme Etnis Minahasa. Dan Ratulangi dengan sangat cemerlang telah menguraikan pikirannya itu dalam berbagai pertemuan mahasiswa-mahasiswa jamannya di Nederland yang turut didengar pula oleh dua orang senior intelektual Ratulangi yaitu van Deventer dan Abendanon.
Dan oleh sebab itu, menurut analisa Gerry van Klinken, Ratulangi sejak tahun 1922 sampai ia meninggal di tahun 1949 sangat konsisten dengan pemikiran sistem federal untuk Republik Indonesia dimana Nasionalisme Minahasa dapat terakomodir. Ratulangi sangat yakin bahwa Nasionalisme Indonesia harus dibangun dari akarnya, yakni nasionalisme yang bertumbuh dari Nasionalisme Bangsa-Bangsa Etnis yang sangat plural yang mendiami seluruh kepulauan Nusantara. Ratulangi sangat yakin bahwa Indonesia Merdeka akan menjadi satu negara yang besar dan kokoh bila ia dibangun atas pondasi nasionalisme bangsa-bangsa etnis yang demokratis dengan identitas budayanya masing-masing.
Namun demikian menghadapi gerakan politik nasionalisme Indonesia yang lebih luas maka kaum intelektual Minahasa yang dipelopori oleh Ratulangi cs, mengambil sikap yang pragmatis dan akomodatif tentang realisme politis, dengan terbentuknya suatu negara Republik Indonesia sebagai nasib perjuangan bersama melawan kolonialisme dari seluruh bangsa-bangsa etnis yang mendiami kepulauan nusantara Indonesia.
Waktu diadakan perdebatan penyusunan UUD 1945 Ratulangi tidak ikut sebagai anggota BPUPKI. Ia sadar bahwa arus membentuk negara kesatuan RI yang dipelopori oleh Soekarno, Moh. Jamin dan Soepomo terlalu kuat. Namun, pada tanggal 18 Agustus 1945, Ratulangi yang didukung oleh AA Maramis, J. Latuharhari (Maluku), I Ketut Puja (Bali), Andi Pangerang Peta Rani (Makasar) dan Tajuddin Noor (Kalimantan) serta mahasiswa-mahasiswa asal Minahasa dalam sidang pertama PPKI untuk menetapkan UUD RI, dengan tegas menolak Piagam Jakarta (Syariat Islam) dalam UUD RI tersebut dengan 'ancaman' bahwa Indonesia Timur tidak akan ikut dalam Republik Indonesia, bahkan akan membentuk Negara Indonesia Timur yang berdaulat dengan sistem federal. 'Ancaman' tersebut akhirnya membuahkan pencaputan 'Piagam Jakarta', dan beberapa pasal yang berorientasi Islam juga mengalami perobahan. Sikap Ratulangi dkk yang tegas tersebut ternyata mempunyai implikasi yang panjang sampai sekarang.
Ternyata bahwa pemikiran sistem federal bagi Indonesia dimana Minahasa akan mempunyai status negara bagian, terus diperjuangkan oleh kelompok federalis di Minahasa. Delegasi KKM (Komite Ketatanegaraan Minahasa yang terdiri dari Prof. Dr. Warouw, Prof. Dr. Engelen, Mr. Ingkiriwang, Ranti, Dengah dan Rampen bertolak ke Nederland untuk berjuang di Konperensi Meja Bundar supaya Minahasa diakui sebagai satu negara bagian dalam RIS yang akan dibentuk. Mereka gagal dalam usaha tersebut.
Dalam menerima suatu kenyataan berdirinya negara Republik Indonesia yang merdeka Ratulangi cs tetap teguh dalam pendirian bentuk negara Federal dengan Otonomi yang seluas-luasnya berdasarkan atas idealisme sosial, politik, budaya dan agama. Karena bagi mereka (Ratulangi cs.) Minahasa tetap merupakan suatu Vaderland ketimbang suatu Propinsi; suatu TANAH AIR ketimbang suatu daerah. Dan pemikiran federal Ratulangi tersebut ia telah ulangi dalam satu wawancara dengan seorang wartawan Belanda diakhir hidupnya pada tahun 1949. Berkatalah Ratulangi waktu itu:
"Saya adalah seorang federalis. Saya bercita-cita adanya suatu struktur pemerintahan yang demokratis dan adil bagi Indonesia Merdeka yang ikut saya perjuangkan, agar satuan-satuan daerah yang membentuk Republik Indonesia secara politis psychologis dan ekonomis memiliki suatu daya hidup yang kokoh (Belanda: Levenskrachtig)".
Epiloog
Setelah 60 tahun Indonesia merdeka dengan menganut sistem Negara Kesatuan yang berakibat jauh tertinggal dibanding dengan negara tetangga Malaysia yang sudah sangat maju; dan banyak lagi masalah yang tak terselesaikan di Indonesia, saya mengajak para pembaca merenungkan apa yang ditulis tentang kemajuan Eropa/A.S dibandingkan dengan Cina; kemudian kemajuan India dan Malaysia sebagai dua negara federal yang sukses muncul di abad ke 20 yang diuraikan dalam dua buku terlaris didunia pada awal abad ke 21.
Kedua buku itu adalah: 'GUNS, GERMS and STEEL' oleh Jared Diamond dan 'THE WORLD is FLAT' oleh Thomas L Friedman. Dari sebuah kutipan yang sangat singkat dari kedua buku yang tebalnya masing-masing sekitar 500 halaman, saya kutip satu paragraf yang Jared Diamond mau katakan tentang kemajuan Eropa dibanding dengan Cina sbb:
"China led Europe in technology at least untill the 15th century and might do so again in the future. But why did Europe developed so fast, and not China. I suggested that the underlying reason behind Europe's overtaking China was something deeper than the proximate factors suggested by most historians (e.g. China's Confusionism versus Europe's Judeo-Christian tradition, the rise of western science, the rise of western mercantilism an capitalism etc.). Behind these and other proximate factors, I saw an Optimal Fragmentation Principal, and that is : ultimate geographic factors that led to China becoming unified early and mostly remaining unified thereafter, while Europe remained constantly fragmented. Europe's fragmentation did, and China's unity didn't foster the advance of technology, science and capitalism by fostering competition between states and providing inovators with alternative sources of support and heavens from persecution".
Tentang kemajuan India, Thomas L Friedman berkata sbb:
"Why has India progress rapidly in the last 50 years while it has about 150 million Muslims, the second largest Muslim country after Indonesia. The answer is context. And in particular the secular, free market, democratic context of India, heavily influenced by a tradition of non-violence and Hindu tolerance. India has progressed rapidly because of its brainy, computer wizard and outsourcing character. It has a pride and strong self-identy character.
The French Revolution, the American Revolution, the Indian Federal democracy, are all based on social contracts whose dominant features is that authority comes from the bottom up, and people can and do feel self-empowered to improve their lot. People living in such contexts tend to spend their time focusing on what to do next, not on whom to blame next".
"A South Asian Muslim friend of mine once told me this story: His Indian Muslim family split in 1948, with half going to Pakistan and half staying in India. When he got older, he asked his father one day why the Indian half of the family seemed to be doing better than the Pakistani half. His father said to him, 'Son, when a Muslim grows up in India and he sees a man living in a big mansion high on a hill, he says, "Father, one day, I will be that man". And when a Muslim grows up in Pakistan and sees a man living in a big mansion high on a hill, he says, "Father, one day I will kill that man".' When you have a pathway to be the Man or the Woman, you tend to focus on the path and on achieving your dreams. When you have no pathway, you tend to focus on your wrath and on nursing your memories."
Demikian dua paragraph dari Thomas L. Friedman, wartawan terkenal The New York Times dalam bukunya 'The World is Flat'.
Dari kedua contoh uraian diatas, berdasarkan suatu penelitian dan analisa kontemporer yang sangat dapat dipercaya oleh penulis-penulis ternama didunia tsb. (Jared Diamond and Thomas L. Friedman), dapat kita ambil sari dan maknanya, bahwa perobahan yang diperlukan Negara Indonesia dan orang Indonesia sekarang ini adalah suatu perobahan yang sangat mendasar, yaitu perobahan karakter budaya identitas manusia Indonesia yang harus berorientasi sekaligus kepada perobahan sistem negara yang lebih demokratis (federal) dan bersumber dari budaya jatidiri pluralisme bangsa-bangsa yang mendiami kepulauan Indonesia dengan masing-masing bangsa (etnis) mempunyai jatidiri dan hargadiri. Negara Kesatuan RI yang sampai sekarang ingin dipertahankan terus adalah suatu Kesatuan Bangsa dan Negara yang semu, hasil buatan elit manusia Indonesia yang tidak 'rasional' dan 'alamiah'. Kesatuan Negara RI yang kita warisi dari orientasi pemikiran kekuasaan kolonial Belanda adalah kesatuan bangsa dan negara yang sudah gagal karena tidak didukung dan dijiwai oleh budaya dan karakter bangsa-bangsa etnis yang mendiami kepualauan nusantara sejak berabad-abad. Perobahan dan pembaharuan secara komprehensif dan menyeluruh diperlukan bangsa dan negara Indonesia sekarang ini, sehingga seperti yang berlangsung di Eropa, India, Malaysia dan (China), bahwa manusia akan lebih banyak memperhatikan perbuatan yang nyata dengan persaingan yang sehat serta kreatif, dan tidak saja terus menerus bersungut-sungut sambil mempersalahkan orang lain. Perobahan karakter manusia Indonesia harus dibarengi dengan memberikan jalan (pathway) perobahan struktur dan sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia kearah sistem jalan (pathway) federal. Tidak ada jalan lain. Semoga!