Kamis, 14 Oktober 2010

Puasa Sebagai Pendidikan Karakter

Puasa sering dicandra sebagai ibadah yang melatih manusia untuk memperoleh kemampuan pengendalian diri. Kemampuan pengendalian diri merupakan ciri unik manusia yang membedakan dirinya dengan binatang.
Kemampuan untuk dapat mengendalikan diri merupakan wujud dari sebuah kharakter yang tangguh. Dengan demikian, sebuah tesis yang bisa diajukan adalah bahwa puasa dapat menawarkan fungsinya sebagai pendidikan karakter. Sebelum mengiluminasi kontribusi puasa dalam pendidikan karakter, setidaknya dua terminologi memerlukan elaborasi,yakni; pendidikan dan karakter.
Profesor Driyakara mendefinisikan pendidikan sebagai proses memanusiakan manusia, yaitu suatu perbaikan kualitas manusia ke taraf insani sehingga dapat menjalankan hidupnya sebagai manusia yang utuh dan membudayakan diri manusia dengan kelengkapan dimensinya; berpengetahuan, berkarakter dan berohani. Karakter, menurut kamus besar Bahasa Indonesia, dimaknai sebagai sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain.
Pendidikan karakter, dengan demikian, adalah proses memanusiakan manusia dengan jalan memperbaiki akhlak dan budi pekerti manusia. Definisi ini sebenarnya agak rancu karena sejatinya pendidikan memanglah proses penanaman nilai untuk membangun karakter. Pendidikan adalah transfer of values. Inilah yang membedakannya dengan pengajaran, yang sering di asosiasikan dengan proses transfer of knowledge. Pendidikan, bagi Dr. Peter dalam bukunya Education Ethics, identik dengan educere, proses membangun dari dalam keluar (inside out).
Dalam ajaran Islam, karakter yang baik dapat dibentuk dengan memberikan perlakuan dan lingkungan yang tepat dalam skema proses pendidikan. Sesungguhnya Allah telah memberikan dua potensi manusia yaitu potensi untuk menuju kebaikan dan potensi untuk menuju keburukan. Karena fungsinya sebagai latihan untuk membangun kemampuan kontrol diri, puasa sejatinya merupakan metode pendidikan untuk membangun potensi-potensi baik dalam diri manusia. Dengan kata lain puasa menyediakan konstruk pendidikan untuk membangun karakter.
Puasa dan tiga level pendidikan karakter
Proses puasa dalam menyediakan pendidikan karakter bekerja dalam tiga level yaitu individu, organisasi dan negara. Dalam konteks individu, seorang hamba yang sedang berpuasa dilatih untuk mengerjakan hal-hal terpuji dan menghindari hal-hal tercela. Dalam teropong psikologi, kurun puasa yang dilakukan selama 29 atau 30 hari menyediakan waktu untuk proses repetisi dalam menanamkan kebiasaan-kebiasaan baik. Proses ini tentu tidak mudah. Al Ghasali dalam sebuah bukunya menggambarkan bahwa jiwa manusia adalah ibarat kerajaan. Nafsu ibarat petugas pajak yang selalu memaksakan kehendak untuk minta dipenuhi. Amarah ibarat polisi kerajaan yang kasar dan sewenang-wenang. Akal ibarat para mentri yang membantu raja melaksanakan tugas dan hati ibarat raja yang mengkontrol semua proses dalam kerajaan. Nafsu dalam jiwa sering melakukan serangan gencar kepada manusia untuk dipenuhi. Menangya hati dan rasio atas nafsu akan melahirkan karakter yang baik. Sebaliknya menangnya nafsu akan menghantarkan kita pada karakter dan perilaku buruk. Bukankah korupsi terjadi karena bisikan nurani kalah oleh nafsu kerakusan untuk menumpuk kekayaan? Bukankan perselingkuhan terjadi karena rasio ditundukkan oleh syahwat ingin memperoleh kenikmatan. Puasa digunakan untuk melatih agar hati dapat memenangkan nafsu-nafsu daya rendah dalam jiwa individu sehingga melahirkan karakter positif.
Dalam konteks organisasi, kualitas sebuah organisasi akan sangat ditentukan oleh kualitas karakter para anggotanya. Jika para anggotanya disiplin, kerja keras, kerja cerdas, tepat waktu dan berkomitmen tentu performance organisasi tersebut akan bagus. Sebaliknya, penampilan organisasi akan menjadi buruk ketika para anggotanya menampilkan karakter seperti; malas, enggan untuk belajar, tidak menghargai waktu dan berkomitmen rendah. Karena pentingnya karakter positif dari para anggotanya, banyak organisasi yang mengembangkan konsep ‘corporate culture’ atau budaya organisasi yang intinya sebenarnya pengembangan karakter dan kebiasaan baik dalam organisasi. Ilham amar ma’ruf nahi mungkar dari puasa dapat member inspirasi organisasi dan perusahaan untuk membangun corparte culture dengan fondasi nilai-nilai transedental-illahiah seperti kerja sama, keadilan, kejujuran, menghargai waktu, dan profesionalisme.
Dalam konteks masyarakat dan negara, keberhasilan individu dalam memfungsikan ibadah puasa sebagai sarana membangun karakter akan sangat menentukan apakah masyarakat akan memiliki perilaku yang terpuji atau tercela. Karakter masyarakat tentu akan mewujud dalam akhlak warga negara dan elit pemimpinnya. Berkenaan dengan watak dan karakter bangsa ada sebuah temuan penelitian yang menarik dalam buku ‘culture matters’. Studi yang dilakukan oleh para profesor Harvard ini mengungkapkan bahwa sikap mental dan karakter sebuah bangsalah yang menentukan kemajuan dan kemundurannya. Karakter manusia-manusia bangsa maju cenderung mengarah kepada karakter positif atau akhlakul karimah seperti; taat peraturan, disiplin, tepat waktu, komitmen pada janji, menegakkan hukum, bertanggung jawab dan penghargaan yang tinggi kepada hak asasi manusia. Sebaliknya bangsa kurang maju cenderung berwatak sebaliknya. Tidak berlebihan jika ada sebuah adagium yang mengatakan bahwa jika akhlak masyarakatnya kokoh negara akan kokoh, jika akhlak masyarakatnya buruk negara akan runtuh.
Pamungkas, ada sebuah sabda nabi yang mengungkapkan bahwa banyak orang yang puasa namun tidak tidak memperoleh hasil apa-apa. Pertanyaannya, apakah puasa telah menjadikan karakter individu, organisasi dan bangsa mulia dan unggul? Jika belum, selayaknyalah Ramadhan tahun 2009 ini dapat dijadikan momentum bagi para umaro, ulama, masyarakat dan individu anak-anak bangsa untuk melecut diri, menjadikan puasa sebagai alat bagi pendidikan dalam membentuk karakter bangsa yang mulia menuju bangsa yang berderajat dan beradab. Amin.

Mengapa Berpuasa Besar Manfaatnya?
1. Pertimbangan yang paling penting dalam melakukan puasa, seperti halnya dalam amal ibadah lainnya, adalah untuk mencari kedekatan kepada Allah, dan mencari kesenangan-Nya dan Pengampunan. Hal ini (pencarian kedekatan kepada ALLAH) itu sendiri menghasilkan kesalehan dalam manusia.

2. Menciptakan kondisi lapar dan haus dalam diri sendiri, hanya dalam rangka ketaatan kepada perintah Ilahi, mengukur iman manusia pada ALLAH dan membantu memperkuat dirinya dengan menempatkannya pada ujian yang berat.

3. Puasa, melalui penciptaan kondisi tak tersedianya makan minum, suatu karunia Allah yang orang sering menerima begitu saja, menanamkan dalam diri manusia ini semangat rasa syukur dan konsekuensinya adalah pengabdian kepada Allah. Tidak ada lagi yang bisa membawa kembali merasakan nikmat Allah daripada segelas air dan makanan berbuka setelah sehari berpuasa. Hal ini juga mengingatkan manusia bahwa kebahagiaan sejati dalam menikmati karunia Allah terletak pada mencukupkan, menahan diri dan tidak pada lebih memanjakan diri.

4. Puasa membuat kita sangat sadar akan lapar dan ketidaknyamanan yang diderita oleh orang yang kurang beruntung di antara saudara-saudara kita. Mereka harus tahan dengan kondisi sulit sepanjang hidup mereka. Dengan demikian puasa menyalakan semangat pengorbanan menuju perubahan menuju penderitaan saudara-saudara.

5. Puasa memberikan pelatihan dalam ketahanan, dan semangat penerimaan. Ini bisa mempersiapkan dirinya dengan baik berhadapan dengan situasi kehidupan. Pantang menyerah karena semangat telah dibudidayakan selama berpuasa.

6. Puasa mengembangkan keberanian, ketabahan, dan semangat juang dalam manusia untuk mengatasi rintangan yang berat dalam hidup dengan pikiran dingin dan tenang. Ini mempertajam daya konsentrasinya untuk mengatasi kendala melalui latihan yang kuat di seluruh bulan, mengarah ke pengendalian kekuatan kehendaknya dan ketetapan hati, yang bisa membantunya dalam situasi kehidupan yang menantang. Hal ini terlihat dari banyak kebiasaan yang tidak diinginkan yang sulit untuk menyerah, lebih mudah menyerah pada hari-hari puasa.

7. Berpuasa mengajar manusia bergantung pada Allah, dan kepercayaan diri pada-Nya. Sama seperti saat kondisi kuat, puasa selama sebulan yang dilakukan dengan bantuan-Nya, situasi pahit dalam hidup juga dapat diatasi dengan bantuan-Nya.

8. Berpuasa mengembangkan semangat kesabaran dalam manusia, dengan kesadaran bahwa hari-hari puasa, meskipun tampaknya tak berujung, apakah sudah sukses dan berakhir bahagia. Demikian itu adalah kehidupan. Semua situasi pahit berlalu, dan berakhir.

9. Puasa ini dimaksudkan untuk menaklukkan amarah dan mengembangkan pengendalian diri dalam manusia. Usaha keras yang diperlukan untuk melewati rasa lapar dan haus juga dapat diperluas untuk menaklukkan kelemahan lain karakter manusia yang menyebabkan manusia jatuh ke dalam kesalahan dan dosa.

10. Puasa menanamkan semangat toleransi dalam diri manusia untuk menghadapi kondisi dan situasi yang tidak menyenangkan tanpa membuat makhluk sesamanya menjadi korban kemarahan. Banyak orang, ketika menghadapi ketidaknyamanan dan kekurangan, menjadi mudah marah dan kesal. Kemarahan ini kemudian ditujukan pada orang-orang di sekitar mereka. Puasa membantu seorang laki-laki menjadi lebih toleran meskipun ia sendiri tidak nyaman.

11. Berpuasa memperhalus seorang pria dan meningkatkan karakternya, memberikan efek kejut kepada naluri manusia yang berupa kebanggaan, kesombongan, iri hati dan ambisi. Berpuasa melembutkan karakter, dan membersihkan hati dan pikirannya dari banyak emosi negatif.

12. Puasa memperlihatkan kelemahan manusia dalam hal keberadaannya kehilangan dua dasar nikmat Allah; makanan dan minuman. Ini menanamkan ke dalam dirinya semangat kelemahan dan ketundukan, menghasilkan kerendahan hati dan doa, yang dalam sebaliknya menjadi sombong.

13. Puasa menghembuskan dalam jiwa manusia pengampunan terhadap orang lain, ketika ia mencari pengampunan Allah melalui puasa dan doa.

14. Puasa memberikan pelajaran dalam ketepatan waktu. Manusia harus taat pada jadwal waktu yang ketat dalam pelaksanaan puasa.

15. Puasa dapat mempengaruhi perekonomian individu, membuat dia kurang boros (menghemat) dalam makanan, bukan malah sebaliknya.

16. Puasa menuntut keteguhan, disiplin, mental, spiritual dan fisik. Karakteristik bentuk ini yang merupakan unsur penting untuk kesuksesan dalam hidup.

17. Puasa membuat reformasi rohani dalam manusia, menyuntikkan dengan semangat antusiasme dan semangat untuk berubah dan menjadi manusia yang lebih baik di mata Allah. Ini adalah kesempatan yang sangat baik, diberikan kepada orang beriman setiap tahun, untuk mengubah diri mereka sendiri dan akibatnya memperbaiki nasib mereka.

18. Pada sisi fisik, puasa membersihkan sistem pencernaan manusia dari kotoran yang terkumpul dari makan yang tidak terhenti sepanjang tahun. Ini mempersiapkan tubuh untuk menghadapi penyakit atau kondisi kelangkaan (darurat, tidak dapat bertemu makanan dan minum semisal karena bencana/paceklik) . Pantang yang ketat seorang yang berpuasa mengatur kesehatan dengan cepat, mempertajam kecerdasan dan meningkatkan kualitas hatinya.

Puasa dengan demikian sebuah karunia bagi manusia. Dalam puasa itu sendiri ada banyak karunia. Puasa menanamkan semangat reformasi dalam diri manusia, menciptakan kesadaran yang luas dalam dirinya untuk memenuhi tugas-tugasnya terhadap Allah dan manusia, dan terhadap dirinya sendiri.

Puasa, Wahana Membangun Karakter Bangsa
Kemampuan untuk menahan diri, mengendalikan hawa nafsu adalah modal besar dalam kehidupan. Pengendalian diri seperti rem kehidupan, kemampuan untuk menarik diri dari derasnya arus keinginan duniawi yang berlebihan, yang menjerumuskan kita kedalam jurang kehancuran


Hakekat puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus, tapi adalah menahan diri dan mengendalikan hawa nafsu, sebagaimana yang disampaikan oleh Rasulullah SAW. Dari Abu Hurairah ra, ia berkata, "Rasulullah saw bersabda, puasa itu bukan hanya menahan diri dari makan dan minum saja.
Tetapi puasa itu adalah menahan diri dari kata-kata yang tidak bermanfaat dan kata-kata kasar. Oleh karena itu, bila ada yang mencacimu atau menjahilimu, maka katakanlah kepadanya, Sesungguhnya aku sedang berpuasa! Sesungguhnya aku sedang berpuasa! (HRMuslim).
Orang yang dikendalikan oleh hawa nafsunya akan berbuat sesukanya tanpa mempertimbangkan baik buruknya. Orang tersebut akan menghalalkan segala cara untuk mewujudkan keinginannya, dan akan terdorong kejalan kebatilan yang menyesatkan.
Orang yang tak mampu mengendalikan hawa nafsunya akan menjadi manusia yang kehilangan akal sehat, budi pekerti dan akhlak yang baik. Manusia yang kehilangan karakter.
Upaya mengendalikan hawa nafsu bukanlah hal yang mudah. Pada saat rasulullah beserta para sahabat kembali dari satu peperangan yang dahsyat melawan kaum musyrikin. asulullah SAW bersabda: "Kita baru kembali dari satu peperangan yang kecil untuk memasuki peperangan yang lebih besar. Sahabat terkejut dan bertanya, "Peperangan apakah itu wahai Rasulullah?"
Baginda berkata, "Peperangan melawan hawa nafsu." (Riwayat Al Baihaqi).
Namun demikian, jika kita bersungguh-sungguh dalam perjuangan mengendalikan hawa nafsu maka Allah SWT akan memberikan petunjuk. Firman Allah SWT,"Mereka yang berjuang untuk melawan hawa nafsu karena hendak menempuh jalan kmi, sesungguhnya kai akan tunjuki jalan. Sesungguhnya Allah itu beserta dengan orang yang buat baik." (Surah Al-Ankabut : 69).
Latihan pengendalian hawa nafsu secara optimal adalah berpuasa. Puasa bukan hanya menahan diri dari yang haram, saat berpuasa bahkan kita diharuskan untuk mengendalikan diri dari yang halal.
Jika seseorang yang berpuasa tidak mampu menahan hawa nafsunya, puasanya tidak akan memberi manfaat apa-apa. Dari Abu Hurairah r.a, ia berkata, "Rasulullah saw bersabda, "eberapa banyak orang yang berpuasa hanya mendapatkan lapar dan dahaga saja dari puasanya," (HR Ibnu Majah).
Kemampuan untuk menahan diri, mengendalikan hawa nafsu adalah modal besar dalam kehidupan. Pengendalian diri seperti rem kehidupan, kemampuan untuk menarik diri dari derasnya arus keinginan duniawi yang berlebihan, yang menjerumuskan kita kedalam jurang kehancuran.
Kemampuan mengendalikan hawa nafsu akan berbuah budi pekerti yang luhur, moral yang baik, Akhlak yang baik. Kemampuan mengendalikan hawa nafsu akan melahirkan manusia-manusia yang berkarakter unggul.
Karakter Bangsa
Bangsa adalah kumpulan dari tata nilai. Karakter dan mentalitas rakyat adalah pondasi yang kuat dari tata nilai tersebut. Bangsa yang memiliki peradaban yang tinggi adalah bangsa yang memiliki karakter unggul. Keruntuhan sebuah bangsa ditandai dengan runtuhnya karakter dan mentalitas masyarakatnya.
Bangsa yang memiliki karakter unggul adalah bangsa yang merupakan masyarakat yang baik (good society). Hal tersebut tercermin dari moral dan budi pekerti yang baik, semangat dan tekad yang kuat, optimis, rasa persaudaraan, persatuan dan kebersamaan yang tinggi.
Masyarakat idaman seperti ini dapat kita wujudkan manakala individu-individunya adalah manusia yang berakhlak dan berwatak baik, manusia yang bermoral berperilaku baik pula.
Berbagai masalah yang dialami bangsa Indonesia hari ini, adalah cerminan keterpurukan mentalitas dan karakter bangsa.
Aa berbagai kasus yang mengingkari akal sehat dan hati nurani kita. Bagaimana korupsi yang merajalela (baca: membudaya) dan tak mampu ditangani pemerintah. Hukum yang selalu berpihak pada orang kaya dan menafikan rakyat kecil.
Negara yang tak sanggup memberi pelayanan pendidikan dan kesehatan yang layak pada warganya, kemiskinan yang mengiris rasa kemanusiaan. Semua itu adalah akibat dari karakter bangsa yang terpuruk.
Demikian juga dengan berbagai kerentanan sosal, kriminalitas, kecurangan, money politic dan konflik pemilukada, tawuran antarwarga, semua itu menjadi bukti bahwa bangsa ini kehilangan karakter. Bangsa yang kehilangan akal sehat, budi pekerti dan akhlak yang baik.
Bangsa yang rakyat dan pemimpinnya hanya memikirkan dirinya sendiri. Rakyat dan pemimpin yang tak mampu menahan diri dan mengendalikan hawa nafsunya.
Dalam Al Quran surah As-shaad ayat 26, Allah swt telah memperingatkan, "Hai Daud, sesungguhnya kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan".
Pendidikan Karakter
Puasa adalah pendidikan karakter bagi ummat islam. Berpuasa selama bulan ramadhan akan mengembalikan manusia kepada fitrahnya, seperti manusia yang baru lahir. Manusia yang cenderung kepada kebenaran, manusia dengan rasa kemanusiaan yang tinggi serta berbudi pekerti yang luhur.
Manusia yang mampu mengendalikan hawanafsunya. Orang yang melaksanakan puasa, memahami dan menghayati maknanya akan melahirkan manusia berakhlak tinggi. Manusia yang berkarakter unggul. Orang tersebut akan meraih keberuntungan, kesuksesan dunia dan akhirat.
Ibadah puasa sebagai sebuah pendidikan karakter adalah upaya pembangunan yang bertata nilai. Pembangunan yang berorientasi pada manusia sebagai subyek pembangunan (human oriented development). Pembangunan yang akan melahirkan manusia yang berkarakter unggul. Manusia-manusia yang akan membentuk masyarakat yang baik (good society).
Ibadah puasa dan ibadah ramadhan lainnya adalah laboratorium pendidikan karakter umat Islam yang relevan bagi bangsa Indonesia yang mayoritas muslim. Jika hakikat dan makna puasa bisa diwujudkan pada mayoritas ummat, tentu menjadi sumbangan yang besar bagi perbaikan karakter bangsa Indonesia.
Ibadah puasa sebagai wahana perbaikan karakter bangsa berarti merintis jalan untuk tercapainya suatu tata pemerintahan yang baik, atau good governance. Perbaikan karakter bangsa berarti mengatasi berbagai persoalan bangsa secara substansial.
Upaya mengurai benang kusut dan meretas jalan bagi kemakmuran dan kemajuan bangsa. Upaya membangun peradaban yang tinggi.
Sungguh amat banyak manfaat, hikmah dan pelajaran yang bisa kita petik dari ibadah puasa. Pantas kiranya bila suatu ketika Nabi Muhammad SAW pernah menyatakan seandainya umat manusia tahu dan rasakan apa saja keistimewaan Ramadan, mereka akan memohon kepada Allah agar seluruh bulan menjadi Ramadan.
Semoga ibadah puasa yang kita lakukan akan memberi manfaat secara personal dan maupun terhadap kehidupan sosial. Terutama dalam membentuk pribadi yang berkarakter unggul, masyarakat yang baik, pemerintahan yang baik untuk peradaban Indonesia yang tinggi.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar